Posted by: aang | October 24, 2007

Siapa suruh datang ke Jakarta????


“Siapa suruh datang ke Jakarta? Siapa suruh datang ke Jakarta? “

Masalah tahunan yang dihadapi Jakarta selain banjir air adalah banjir penduduk pendatang. Banjir penduduk datang biasanya datang dengan seiringnya arus balik setelah liburan lebaran usai. Jika awalnya satu orang mudik maka pada waktu arus balik ia membawa paling sedikit satu orang, entah saudara atau tetangga satu kampung, untuk ikutan mengadu nasib ke Jakarta.

Masalahnya jika banjir air bisa surut tapi jika banjir penduduk pendatang susah untuk diatasi. Kata para pendatang Jakarta banyak uang sehingga mereka mengadu nasib atau keberuntungan di Jakarta. Anehnya yang biasanya mengajak saudara, teman, dan tetangga kampung adalah orang yang bisa dikatakan belum sukses atau masih hidup susah. Kebanyakan mereka masih belum mendapatkan pekerjaan yang tetap, gaji masih lebih kecil dari biaya hidup tapi mereka pulang kampung dengan berlagak sok sukses. Sehingga ketika mudik ke kampung ia menjanjikan hal yang tidak-tidak bahkan ia pun tak tahu apa yang ia janjikan.

Jadinya yah daerah kumuh di Jakarta bertambah padat dan juga tingkat kriminalitas bertambah juga. So dibilang Ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Siapa suruh datang ke Jakarta???? Aku saja berharap mendapatkan perkerjaan yang lebih menjanjikan di kota lain.

Masalah pelarangan kedatangan penduduk baru ini mengalami pro dan kontra. Yangn tidak setuju menggunakan alasan bahwa hak asasi manusia untuk berpindah-pindah tempat. Kalau semua kota besar menggunakan perda melarang arus penduduk pendatang maka banyak orang yang akan terkukung di negerinya sendiri.

Kalau saya?? Tentu saja setuju dengan pembatasan kedatangan penduduk. Kalau mereka datang dengan tujuan yang tidak jelas, tidak memiliki keahlian, dan gak tahu mau ngapain ya gak boleh dong. Kan nantinya banyak pengangguran malah ujung-ujungnya jadi penjahat atau pelacur. Trus pemda yang bersangkutan yang repot. Jadi mungkin mereka para pendatang dikasih waktu selama max 6 bulan untuk mengadu nasib. Kalau tidak ya dipulangkan. Nah ini juga tantangan buat pemerintah pusat untuk mengatasi arus urbanisasi. Kalau dari pandanganku harusnya tiap pemda tuh mengoptimalkan sumber daya masing-masing.

Seperti yang ada di kabupaten takengon. Sebenarnya asset pariwisata yang bagu sekali. Andai saja pemda fokus untuk mengembangkan kota itu sebagai kota pariwisata wah aku yakin masyakarat bisa hidup makmur dari sektor tersebut. Jadi mereka gak perllu merantau kalau dia bisa mencari uang di kotanya sendiri.

  • Sekedar opini-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: