Posted by: aang | October 31, 2007

Kompas 31 oktober 2007


Kutipan Berita dari kompas.co.id

Saatnya Memikirkan Pendidikan bagi Korban Tsunami di Aceh

Menyambut tiga tahun bencana tsunami di Aceh, kehidupan para korban sudah berjalan normal. Para petani sudah beraktivitas seperti biasanya. Sepanjang Banda Aceh hingga Pidie, di persawahan tampak para petani memanen padi. Para pelajar ceria mengayuh sepeda menuju sekolah atau pulang ke rumah.

Sayang, di beberapa tempat masih saja ada yang mengeluh. Bukan karena fasilitas yang tidak memadai, tapi karena tidak semewah di kampung tetangga.

“Kampung dia itu tidak parah. Kampung saya habis oleh tsunami, sekarang malah sudah di tengah laut. Tapi, mengapa orang-orang di kampung itu mendapat rumah berlantai keramik, sementara saya hanya lantai semen,” kata perempuan 35 tahun yang hanya mendapat bantuan rumah berkamar dua, ruang tamu, dan satu kamar mandi, tetapi tanpa dapur.

Di luar keluh kesahnya itu, sesungguhnya dia secara mandiri sudah dapat membangun dapur berukuran sekitar 8 meter persegi dari hasil menabung penghasilan suaminya sebagai nelayan yang rata-rata Rp 20.000 per hari. Ia juga menjadi penjahit jaring pukat dengan penghasilan Rp 10.000- Rp 50.000 per hari.

Tak jauh dari perempuan itu, segerombolan anak mengikuti para tamu dari DOW Chemical dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Habitat for Humanity yang meninjau permukiman korban tsunami di Desa Pasi Aron, Jangka Buya. LSM Habitat membangun 70 rumah sederhana berukuran sekitar 38 meter persegi dan alat penyulingan air bantuan DOW Chemical.

Anak-anak itu terus tersenyum saat melepas kepulangan para tamu. “Kak, kok tidak kasih uang. Saya miskin, tak bisa bayar sekolah,” katanya.

Thusi Bonandito, Center Manager North Aceh Center Habitat for Humanity, mengatakan, akibat ketidakpuasan itu ada orang-orang yang sudah memiliki rumah dari bantuan sebuah LSM tetapi mengaku tak punya rumah di desa lain sehingga ia mendapatkannya lagi di desa lainnya. “Ada yang ketahuan sampai punya rumah 10 unit,” kata Thusi gemas. (ckckckckc! Speechless! blog red)

Arwin Soelaksono, Operations Director Tsunami Disaster Response Project dari Habitat for Humanity, mengatakan, LSM itu sengaja membangun rumah sederhana dengan biaya sekitar Rp 70 juta per unit.

Urai Rogers, President Director DOW Chemical untuk Indonesia, berharap masyarakat bisa lebih mandiri untuk melengkapi fasilitas utama yang sudah tersedia, seperti perumahan dan air bersih. “Kami akan terus terlibat sampai semuanya menjadi lebih baik,” ujar Urai.

Bekerja sama dengan Habitat, Dow Chemical telah mengucurkan dana 519.000 dollar AS untuk membangun 70 rumah di Jangka Buya dan 51 rumah di Emperom. Sementara untuk penyediaan air bersih, dana yang diberikan 88.537 dollar AS, dan Rp 133 juta untuk membangun gedung serba guna di Emperom.

Apa yang terjadi di Jangka Buya hanya sebuah gambar kecil dari bingkai masalah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Psikolog Alfin Ruznendi dari Universitas Islam Bandung yang sempat beberapa kali berkunjung ke NAD mengatakan, apa yang terjadi tidak semuanya kesalahan masyarakat Aceh.

Menurut Alfin, pada umumnya masyarakat Aceh memiliki jiwa survival yang kuat, harga diri tinggi, dan sumber daya alam yang berlimpah.

Ketika tsunami terjadi, banyak LSM dan orang dari berbagai budaya berbeda datang dan berinteraksi secara intens dengan masyarakat. Mereka memberi banyak bantuan. Namun, karena pemberian bantuan cukup lama, terjadi proses kebiasaan pada masyarakat. Mereka jadi terbiasa diberi bantuan. Menurut Alfin, membangun kembali kehidupan sosial budaya yang mendasari perilaku sebuah masyarakat bukan pekerjaan mudah dan singkat. Tetapi, kalau tak dilakukan segera, perubahan yang mengakibatkan gesekan antargenerasi akan makin sulit diatasi. (Yenti Aprianti)


Responses

  1. gilee.. kaget banget pas tau kalo ada yang ketauan punya 10 rumah! ampuunn.. abis kena tsunami kok jadi tamak begitu ya? eh, blognya ta’ link ya?

  2. boleh-boleh silahkan malah makasih banyak!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: