Posted by: aang | November 9, 2007

Perlukah Melestarikan Budaya???


Jika kita seorang perantau maka pasti pernah mengalami benturan budaya atau konflik budaya. Di mana kita hidup di tempat yang mempunyai budaya dan adat istiadat yang berbeda. Dalam skala lebih kecil pun kadang kita berbenturan dengan kebiasaan dan pola pikir orang lain. Namun, saya berpendapat ada nilai-nilai universal yang memang harusnya dianut dan tidak berbenturan dengan logika kita. Bersyukur aku terlahir sebagai muslim dan pemeluk islam dimana nilai-niai universal itu pun ada dalam nilai Islam.

Namun yang jadi pertanyaan adalah bisa tidak kita merubah kebiasaan atau meninggalkan kebiasaan lama kita yang tidak berguna atau memang buruk. Secara kasarnya saya tidak setuju kita dengan Jargon Lestarikan Budaya Warisan Nenek Moyang kita. Yang jadi pertanyaan apakah semua warisan budaya??? Seolah-olah kita menutup mata bahwa kebiasaan yang diturunkan oleh leluhur kita tidak ada yang salah. Seolah-olah leluhur kita adalah orang suci yang semua warisan budaya mereka adalah baik. Lantas bagaimana jika budaya yang kita warisi tersebut bertentangan dengan Islam??? Atau terdapat penemuan bahwa kebudayaan tersebut berbahaya bagi kesehatan kita???

Masalahnya kadang kita tidak memfilter warisan budaya kita. Bahkan bukan agama yang menjadi pemfilter budaya yang akan kita lestarikan tapi malah budaya yang menjadi filter terhadap agama kita. Jika ada nilai Islam yang bertentangan dengan budaya kita lucunya kita lebih mengutamakan kebudayaan kita. Kita lihat saja apa yang terjadi pada masyarakat Mekkah sebelum ajaran Islam datang. Budaya mereka sungguh mengerikan. Bagi mereka mempunyai anak perempuan adalah aib dan akan dikubur hidup-hidup. Atau kalau pada masyarakat Jogja memuliakan Penguasa Laut Selatan dan Penguasa Merapi yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah Islam. Lantas kita seolah-olah menutup mata saja dengan berlindung di balik jargon Melestarikan Warisan Budaya.

Ok memang budaya adalah indetitas khas dari suatu masyarakat. Tapi kalau ternyata diketahui bertentangan dengan nilai Islam atau menurut penelitian berbahaya apakah kita tetap melanjutkan. Seperti kebiasan kebersihan di mana aku sangat perduli atau malah terlalu berlebihan dengan kebersihan. Kalau ternyata kebiasaan kita itu malah membuat kita rentan terkena penyakit apakah kita seharusnya merubah itu semua.

Nilai-nilai universal itulah yang harusnya menjadi filter atas budaya mana yang patut kita lestarikan dan mana yang tidak. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap leluhur tapi memang itu yang seharusnya kita lakukan. Kita lihat kebiasaan orang jepang yang selalu melepas sandal begitu masuk rumah. Itu adalah budaya mereka dan saya nilai mengandung nilai kebersihan. Yaitu sandal atau sepatu yang kita pakai di luar rumah tentu saja kotor maka agar rumah selalu bersih dan sehat kita harus segera melepasnya begitu masuk rumah. Hal ini menurut saya sah-sah saja kita budayakan juga toh tidak bertentangan dengan nilai islam. Justru kita sebagai negara pemeluk islam malah kesadaran akan kebersihan masih sangat rendah.

Islam adalah agama yang mengajarkan kebersihan dengan adanya bab Taharoh (benar tidak ya tulisannya) atau bersuci dalam pelajaran Fikih. Yakni jika mau sholat maka harus berwudhu dulu, jika kita dalam hadas kecil atau besar harus segera bersuci dengan cara yang berbeda. Bahkan ada hadis yang menganjurkan kita untuk tetap dalam keadaan berwudhu. Hal ini tersirat bahwa agama Islam menjunjung tinggi akan kebersihan dan tentu saja juga tentang kesehatan di mana ada prinsip Halal dan Thoyib dalam makanan dan minuman.

Lucunya pengalaman pribadi saya adalah kita ini islam tapi orang Jepang, Amerika, dan Eropa malah lebih islami. Saya ambil contoh mengenai kebersihan saja. Hal yang paling sederhana tapi sulit untuk kita lakukan. Saya berada di negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia dan saya juga berada di salah satu kota di mana provinsi tersebut menerapkan syariah islam. Apa yang saya lihat jauh dari dambaan saya bahwa dengan terlaksananya syariat Islam ini suasana akan bersih, nyaman, dan juga tenang.

Kata bersih masih sangat jauh bahkan mungkin bukan budaya kita. Warung makan khas daerah ini jauh dari kata bersih. Saya tidak kategorikan bersih itu seperti yang ada di resto-resto mahal. Tapi setidaknya mejanya bersih tidak ada noda, lantainya bersih, juga cara mereka mengemas makanan bersih. Untuk menjadi bersih bukanlah suatu yang mahal dan mengeluarkan banyak uang. Juga kebiasaan mereka masih dari kesadaran akan kebersihan. Saya mendapati salah satu anggota tim asistensi saya yang mempunyai kesadaran akan kebersihan sangatlah kurang. Dia jauh lebih tua dari saya tapi entah kenapa kebersihan itu bukanlah hal yang penting bagi dia.

Syukurnya saya tidak sekamar dengan dia tapi setidaknya saya terganggu dengan kebiasaan dia yang masuk kamar tanpa melepas sandal. Padahal sandal itu juga ia pakai untuk keluar hotel untuk pergi makan di mana kondisi lingkungan sekitar becek karena hujan dan kotor. Tapi dia cuek saja masuk ke kamar tempat saya tidur tanpa melepas alas kaki. Bahkan juga saya sempat menaruh sajadah dekat pintu sebagai tanda saya sholat di ruangan ini. Tapi tetap saja dia hanya melihat sekilas dan masuk dengan tanpa melepaskan sandalnya. Seolah-olah Ia tidak mengindahkan saya sholat disitu.

Sungguh aneh bagi saya karena dia adalah orang asli daerah sini yang sangat bangga dengan masa lalunya. Yaitu berdirinya dan berjanya kerajaan Islam yang memang sangat masyhur dan membuat saya terpesona juga dengan sejarah daerah ini. Yang lebih menyiksa lagi karena kami disini sedang mengerjakan asistensi jadi Ia akan sering bolak-balik masuk kamar ini. Menurut pengamatan baru 2 kali ia melepas sandalnya lalu sisanya tidak.

Kesimpulan awal saya bahwa syariat Islam disini hanya terkesan mengatur tentang Sholat, Puasa, Zakat, Menutup Aurat, dan tentang Perzinaan dan maksiat yang lainnya. Tidak sampai menyentuh pada kebiasaan sehari-hari dan hal-hal yang kecil. Seperti pentingnya kebersihan (kesadaran penduduk sini akan hal ini sangatlah rendah), ketertiban dan membuat muslim yang lain nyaman (ditunjukan dengan semrawutnya perilaku berlalu lintas yang jauh dari kata tertib), dan yang lebih kecil yaitu bersedekah melalui senyum.

Bukankah hal yang besar tersusun oleh hal-hal yang kecil. Bukankah untuk berbuat yang lebih besar kita mulai dengan hal-hal yang lebih keci. Bukankah rasul pertama kali berisalah mengajarkan aqidah yang benar dan akhlak yang islami baru masuk ke hukum syariat????? Lalu kenapa kita ini bangga menyebut bahwa saya muslim tapi kita jauh sekali dari nilai islam. Ibadah bagi kita hanya sebagai rutinitas dan penggugur kewajiban saja. Kita masih mencintai budaya kita dibandingkan hidup secara nilai-nilai islam. Kita bangga bahwa dulu nenek moyang kita pendiri Kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara. Tapi kita hanya sebatas sesumbar sombong dan tenggelam dalam kebanggaan. Tanpa kita sadari sesungguhnya kita tidak pantas mengaku pewaris mereka.

Ayo mulai hidup yang bersih dari diri kita sendiri. Raga yang bersih akan melahirkan fisik yang sehat. Fisik yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jika jiwa kita sehat Insya Allah pikiran kita pun akan sehat. Jangan teriak anti korupsi jika kita tidak bisa hidup bersih dalam kehidupan sehari-hari kita.


Responses

  1. Perlu sih…. Pelestarian juga bukan berarti tanpa pilih-pilih kan…

    Lha daripada diklaim sama negara lain hayo?

    Kalau yang Aang sebutin itu (kebersihan dkk) kayaknya lebih ke ‘karakter’ atau kebiasaan sehari-hari deh, emang dasarnya orangnya aja yang males.

  2. Melestari budaya itu perlu,bab idintiti budaya itu mempamerkan idintiti sukuan itu sendiri, tapi bukanlah semua warisan budaya itu kita tonjolkan, kita tapi ia dengan nilai budaya islam, yang mana haram jangan lakukan dan buat,tapikalau dari sesgi tarian apa salahnya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: