Posted by: aang | November 11, 2007

Butuh berapa banyak nama Pahlawan lagi??? (Renungan pada Hari Pahlawan bag. 2)


Mengutip dari Koran Kompas dan pidato Surya Paloh dalam Metro TV bisa disimpulkan butuh berapa banyak lagi pahlawan agar bangsa kita menjadi bangsa yang besar???

Butuh berapa banyak lagi nama-nama yang kita akui sebagi pahlawan agar negara kita menjadi negara yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.

Lalu kurang apa kita menghargai para pahlawan kita karena tiap tanggal 10 November kita memperingatinya sebagai hari Pahlawan.

Kita hanya menghargai hanya dalam sebatas formalitas tapi lupa akan meneruskan perjuangan inti mereka. Lupa bahwa mensejahterakan ribuan jiwa rakyat Indonesia yang masih hidup adalah bentuk penghargaan kita pada pahlawan kita.

Tanpa mengurangi rasa hormar terhadap jasa pahlawan kita, butuh berapa banyak kita memasukan nama-nama tokoh dalam daftar nama Pahlawan agar kita bisa menjadi bangsa yang besar. Untuk menjadi bangsa yang besar, bermartabat, dan diakui oleh dunia Internasional.

Saya masih ingat denga salah satu puisi Taufik Ismail yang berjudul “Malu Aku menjadi Orang Indonesia”. Saya rasa isi dalam puisi tersebut masih relevan sampai sekarang.

Jujur saya malu menjadi bangsa Indonesia tapi aku tidak malu telah lahir di bumi Indonesia. Kita lihat Singapura dan Malaysia, mereka tidak mempunyai kisah heroik peperangan merebutkan kemerdekaan negara mereka. Tapi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat mereka lebih dari negara kita. Vietnam yang memiliki sejarah yang hampir sama tapi mereka lebih maju dari kita.

Satu yang menjadi masalah bangsa ini. Pemimpin kita dan jajaran birokrasi kita tidak mewarisi semangat para pahlawan. Semangat mensejahterakan rakyat mereka.

Tidak ada politik atau keinginan untuk memihak rakyat. Mereka sibuk mengumpulkan harta untuk memperkaya diri sendiri dan menggganti uang mereka yang telah keluar untuk mendapatkan jabatan sekarang. Kita lihat saja laporan BPK (sayang sekali bukan BPKP hiks!) mengenai aliran dana misterius BI. Pengeluaran mereka terjadi tanpa mekanisme pengeluaran resmi BI. Diduga aliran dana tersebut digunakan antar lain untuk perbantuan hukum para mantan dirut dan jajaran tinggi BI yang terkait kasus di kejaksaan juga menyuap anggota dewan dalam pengubahan UU BI. Bahkan ada indikasi adanya penyuapan kepada pihak kejaksaan.

Untuk mencalonkan sebagai bupati misalnya. Kita harus mempunyai modal yang tidak sedikit. Karena ketika parpol hendak meminang kita bukan apa idealism? Apa rencanamu? Tapi pertanyaan mereka adalah punya uang berapa kamu??? Hal ini bukanlah suatu yang rahasia (kalaupun tidak percaya baca kompas edisi 10 November. Wawancara pada gubernur Sumatera Utara).

Kita lihat saja kebijakan pemerintah selama ini yang jauh memihak rakyat dan mensejahterakan rakyat. Memang tidak gampang dan butuh waktu lama untuk memperbaiki negara ini yang telah dirusak selama 32 tahun. Namun, jika setidaknya ada niat untuk memperbaiki negeri ini dalam jajaran birokrat kita maka pasti masalah ini ada satu atau beberapa yang terselesaikan. Bukannya malah berlarut-larut dan tingkap korupsi di negara ini malah bertambah banyak.

Ah kawan. Ayolah kita bangun bersama negeri ini. Kita mulai dari diri kita. Diri saya dan diri anda kawan. Mulailah perbaikan mulai dari kita dengan hidup yang bersih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: