Posted by: aang | November 11, 2007

Mewarisi Semangat Pahlawan Kita (Renungan pada Hari Pahlawan bag 1)


“Telah gugur pahlawanku. Tunai sudah janji bakti. Gugur satu tumbuh seribu…”

Hari ini semua sudut pelosok negeri diminta mengheningkan sejenak pada pukul 08.15 WIB secara serentak oleh Menteri Sosial.

Jujur saya lupa akan anjuran tersebut tapi saya tidak lupa bahwa hari ini adalah hari Pahlawan bagi Indonesia. Bait lagu yang saya petik adalah lagu kenangan saya waktu SD. Di masa itu saya bersama tim paduan suara sekolah saya menyanyikan lagu itu. Dan lagu itu begitu menyentuh saya begitu dalam seperti lagu-lagu religious Opick. Namun sampai saat ini saya belum tahu makna khusus pencanangan tanggal 10 November sebagai pahlawan.

Sebenarnya apa sih semangat para pahlawan, kita baik yang telah gugur maupun yang masih hidup, dalam memperjuangankan kemerdekaan bangsa ini??? Tidak mungkin kalau hanya karena ingin mendapatkan harta atau tahta karena mereka bertaruh nyawa. Niat mereka lebih suci dari itu. Lebih tinggi dari sekedar ingin mendapatkan gelar nama pahlawan. Kalau menurut saya salah satu semangat mereka yaitu mereka ingin menghargai mereka yang masih hidup agar lebih hidup lebih mulia serta bebas dari segala penjajahan. Intinya yaitu memuliakan atau menghargai orang yang masih hidup.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, bangsa ini telah lupa dengan semangat pahlawan-pahlawan kita yaitu menghargai manusia yang masih hidup. Kita merasa telah cukup dengan melaksanakan upacara yang khidmat di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kita merasa cukup dengan menabur bunga pada makam mereka dan mengheningkan sejenak.

Kita lupa bahwa tanggung jawab kita sekarang kepada para pahlawan kita tidak hanya sekedar mengenang mereka tapi juga meneruskan perjuangan mereka, meneruskan semangat mereka, dan tentunya mengisi kemerdekaan bangsa kita. Satu yang kita lupa kita tidak menghargai jutaan jiwa rakyat Indonesia yang masih hidup. Kita lupa memperjuangkan mereka. Bukankah para pahlawan kita berani gugur demi memperjuangan jiwa rakyat ini agar merdeka.

Mengenai menghormati orang mati bangsa Indonesia jagonya. Kita lihat saja berapa banyak pengunjung makam-makam para wali songo dalam tiap tahunnya??? Kita tiap tahun selalu berkunjung dan merasa ini adalah kewajiban. Jika ditanya apa motivasi mereka??? Ada yang bilang sebagai bentuk penghormatan, mencari berkah, dan juga yang asal ikut. Kita dengan kehebohannya berbondong-bondong mengunjungi makam mereka. Tapi kita hanya sekedar mengunjungi saja. Lebih mengkultuskan sampai melanggar batas akidah kita. Tapi kita lupa tentang perjuangan mereka dalam menyebarkan kalam ILahi di tanah Jawa. Kita merasa lebih baik mengunjungi makam mereka ketimbang meneruskan syiar yang mereka bawa. Lantas mana bentuk penghormatan kita???

Makam Bung Karno juga tidak pernah sepi dari pengunjung. Mereka yang mengunjungi mempunyai motivasi yaitu bentuk penghargaan kepada Bapak Negara Ini. Tapi bentuk penghargaan kita hanya berbentuk berkunjung ke makam Bung Karno. Bahkan ada yang sampai keluar dengan akidah agama kita yaitu menganggap Bung karno adalah orang suci yang manunggal kalih Gusti Pangeran. Bentuk penghormatan kita malah lebih ke bentuk pengkhultusan kepada sosok Bung Karno. Tapi kita tidak mewarisi semangat nasionalisme beliau. Jangankan kita bahkan anak-anak beliau belum satupun yang sevisi atau melanjutkan semangat dan perjuangan beliau.

Lalu apa guna kita memperingati Hari Pahlawan kalau hanya sebatas formalitas saja???? Kita semua lupa mempunyai tanggung jawab atas ribuan jiwa rakyat Indonesia! Kita lupa banyak sekali rakyat yang tinggal dalam garis kemiskinan yang seakan terlupakan oleh kita. Kita lupa bahwa masih banyak rakyat kita yang masih kelaparan, buta huruf, dan hidup tertindas padahal kita sudah merdeka selama 62 tahun. Kita lupa akan tanggung jawab sosial bersama. Mungkin kita tidak lupa tapi masa bodoh akan hal ini. Padahal kita tidak disuruh berperang dan mempertaruhkan nyawa kita.

Kita sibuk menabur bunga di pusaka mereka. Tapi lupa akan pahlawan kita yang masih hidup. Mereka-mereka rata hidup dalam garis kemiskinan jauh dari kata cukup. Kita lupa menghormati pahlawan devisa kita. Di mana mereka memperjuangkan harga diri mereka yang beresiko mendapatkan penganiayaan demi menyumbang devisa kepada negara kita. Kita bahkan memandang rendah para TKI kita. Yah kita memang hebat menghormati batu nisan ketimbang jiwa yang masih hidup.

Warisan itu ada. Semangat itu masih terpatri di jiwa-jiwa pahlawan kita mesti telah gugur. Hanya semua kembali pada diri kita. Apakah kita mau mewarisinya??? Apakah kita mau melanjutkan perjuangan para pahlawan kita???

 

 

Pilhan mati bagi kita sekarang buka lagi merdeka atau mati. Tapi berjuang atau hidup terhina.

Oh Sudirman! Oh Bung Tomo! Malu kami mengenangmu tanpa meneruskan perjuanganmu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: