Posted by: aang | November 18, 2007

Guruku oh Guruku???? ( Mengenang kembali masa-masa di bangku Sekolah)


Kalau tidak salah antara tanggal 14 atau 15 November diperingati sebagai Hari Guru. Aku pun baru tahu kalau negara ini mencanangkan hari khusus untuk pahlawan yang disiakan-siakan ini bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa. Spontan ingatanku berlari ke mesin waktu dan menuju masa-masa ketika aku masih duduk di bangku sekolah.

Banyak dari kita yang tidak sadar bahwa guru mempunyai jasa sangat besar kepada kita. Aku masih ingat ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, di salah satu dusun di Kabupaten Madiun, masa-masa di mana aku mengalami masa yang tersulit dalam hidupku. Saat itu aku pernah memakai sepatu yang ujungnya sudah terbuka dan hal yang paling aku ingat adalah aku pernah pergi ke sekolah hanya dengan membawa tas kresek, tas plastik berwarna hitam yang biasanya dipakai membungkus belanjaan, sebagai pengganti tas sekolahku yang rusak. Walaupun pada saat itu aku orang yang termasuk tidak beruntung tapi aku selalu menjadi peringkat pertama setiap cawu dan paling buruk aku mendapatkan peringkat tiga. Pada saat itu aku masih ingat aku termasuk murid kesayangan di sekolahku. Masih teringat jelas Guru Bahasa Indonesia yang merupakan guru paling cantik di sekolahku. Dia sangat perhatian padaku karena nilai bahasaku selalu bagus dan aku pada saat itu sudah mulai menulis puisi-puisi dan beliau mengagumi karyaku. Ada lagi guru matematika yang kata teman-teman SD ku galak tapi bagiku tidak. Karena aku termasuk pandai saat itu. Ah bagaimana ya nasib mereka. Lama sudah aku tidak berkunjung ke Madiun.

Lalu berlocat ke jaman aku duduk di bangku SMP/SLTP di SLTP Nasional KPS. Aku masih ingat banyak sekali bahwa guru-guru di sana sangat berkompeten dan SMP saya yang terbaik di kota Balikpapan. Apalagi sekarang SMP kami sudah menganut sistem belajar di Amerika. Yaitu setiap murid digolongkan berdasarkan kelas-kelas seperti kelas matematika, fisika, biologi, dan lainnya. Yang paling lekat dalam memoriku adalah guru olahraga yang membimbingku selama dua tahun untuk menyiapkan aku siap masuk SMU Taruna. Selama dua tahun 3x seminggu kami melakukan latihan fisik seperti berlari, sit up, pull up, dan latihan atletik lainnya. Tapi aku gagal masuk SMU Taruna padahal nilai fisik dan nilai tes akademiku diatas rata-rata. Dan anehnya yang sampai sekarang aku tidak mengerti temanku yang mengalami kelainan tulang belakang dan mempunyai minus lebih dari satu lolos tersebut. Terakhir tersiar kabar bahwa ada permainan uang yang sengaja aku tidak diberitahu. Tapi aku tetap merasa menjadi pemenang karena aku tetap melangkah jujur tanpa ada tindak korupsi dalam bentuk uang suap. Selain guru olahraga ada juga guru Biologi namanya Pak Rawuh, aku paling ingat namanya karena bernama jawa, yang juga mengajariku dengan sabar tentang biologi dan tentang kejujuran. Secara keseluruhan guru-guru di SLTP Nasional KPS sangat berdedikasi untuk memajukan murid-muridnya bahkan sampai tingkat Pembina pramuka kami. Oh teman-teman SMPku I Miss U All, Balikpapan!!! I want to go back and settle there. Wait for me!!!

Trus kita maju ke masa-masa yang penuh gejolak yaitu masa SMU. Aku akui masa-masa SMU adalah masa di mana aku suka membuat onar teurtama pada tingkat dua. Tidak hanya sering bertengkar pada orang tuaku tapi juga aku dengan guru-guru yang aku nilai naïf dan kolotan. Guru Geografi, Bahasa Indonesia, Biologi, dan Matematika adalah guru dan juga sahabatku. Beliau-beliau ini bisa menilai muridnya lebih dalam tidak hanya dari sikap muridnya dan nilai akedemisnya. Makanya aku lebih menghormati beliau-beliau. Dari awal aku sudah tidak tertarik dengan pelajaran seperti Fisika, Kimia, dan Biologi. Pelajaran yang membosankan bagiku karena memang pada saat itu aku tahu bahwa itu bukan bidang dan minatku. Namun, kenapa kebanyakan dari guru di sekolah selalu memandang bahwa kelas IPA adalah kelas terbaik dan orang-orang di dalamnya adalah orang-orang terbaik. Tidak memperdulikan minat dan bakat muridnya. Pada cawu II kelas dua aku membuat gebrakan yang membuat aku sempat diboikot oleh orang tuaku dan juga wali kelasku yang juga guru Fisika di kelasku. Gebrakan itu adalah aku memutuskan untuk masuk kelas IPS padahal itu terlalu dini.

Aku bangga masuk kelas IPS 3 dan menjadi ketua kelas. Semasa kelas tiga aku diakui sebagai ketua kelas yang badung tapi tetap berprestasi. Bayangkan saja aku sering membolos pelajaran Akuntansi dan memilih nongkrong di kantin. Parahnya aku mengajak teman-temanku bahkan teman dari kelas lain. Dan pada masa itu mayoritas guru di kelas IPA mengganggap remeh anak IPS dan pandangan mereka sangat judgemental sekali. Padahal aku tahu kebanyakan teman-temanku di IPA hobinya mencontek saat ulangan dan hanya beberapa orang tertentu saja yang memang pintar dan jenius banget.Tapi bedanya walau aku ini badung suka baca komik di kelas, ngobrol di kelas, bahkan sering nongkrong di kantin tapi aku jarang sekali tidak mengerjakan PR dan selalu mendapat nilai bagus. Lalu kelasku menjadi trendsetter karena satu-satunya kelas yang mempunyai mading kelas dan juga membuat film indie. Oh teman-temanku yang dulu anggota IPS 3 berbanggalah kalian. Saat-saat yang membanggakan itu yaitu ketika aku berhasil membuktikan pada orangtuaku dan guru-guru di sekolahku bahwa anak IPS bukanlah anak buangan. Terbukti di kelas IPS ada 4 orang yang masuk STAN dan dua diantaranya di kelasku. Lebih bangganya yaitu kebanyakan teman-teman kelas IPS lolos masuk SPMB termasuk aku juga. Fiuh pada saat itu aku langsung membungsukan dadaku pada guru-guru IPA yang sangat judgemental. Terima kasih tidak terkira pada almarhum Imam Buchori, beliau adalah wali kelasku dan juga mengajar pelajaran Tata Negara. Almarhum sangat berjasa karena dia selalu mengungkapkan bahwa kita boleh santai, tapi harus serius, dan sukses nantinya. Moto itu kami jadikan moto kelas kami yang disingkat S3 yang bisa disebut Sosial 3. Juga almarhum Djumain, beliau guru Ekonomi yang menjadi wali kelas Sosial 1. Hal yang paling membuatku takjub yaitu program inovatifnya yaitu pada tiap hari juma’t kami yang terbagi dalam kelompok harus belajar berdagang. Wow!!! He was great. Semoga jasa-jasa beliau yang telah mengajar banyak generasi diterima dan diberi kedudukan yang baik di sisi Allah. Amien! Kami keluarga kelas IPS merasa sangat kehilangan.

Sungguh besar jasa guru pada hidupku. Selain dia menyampaikan materi pelajaran beliau juga memberikan nasehat-nasehat yang tidak aku sadari membentuk diriku yang sekarang.

Bangsa ini tidak pernah akan menjadi bangsa besar jika tidak pernah perduli pada pendidikan dan nasib guru-guru yang mendidik tunas-tunas bangsa. Kita lihat saja sekarang karena gaji guru sangatlah jauh dari kata cukup. Akibatnya banyak orang yang menjadi guru hanya karena terpaksa daripada tidak mempunyai mata pencaharian. Sehingga jarang sekali guru-guru baru ini yang menjadi guru karena panggilan jiwa dan ingin mengabdi pada pendidikan anak bangsa. Selain itu juga seleksi penerimaan guru yang lagi-lagi dicampuri dengan suap-menyuap. Akibatnya guru banyak yang mengajar sambil berdagang. Banyak guru dan Kepala Sekolah yang mengkorupsi dana sekolah. Banyak juga guru yang berbuat tidak senonoh yang harusnya menjadi teladan. eksesnya, banyak murid yang tidak patuh dan hormat pada guru. Beda sekali dengan jamanku masih sekolah. Ketika kami bertemu dengan guru rasanya langsung segan dan langsung menunduk hormat.

Guruku oh guruku. Kini murid-muridmu ada yang menjadi Presiden, menteri, pengusaha kaya, penyanyi terkenal, dan hidupnya sukses. Tapi kalian tetap menjadi guru dan hidup dengan kondisi serba cukup bahkan bisa dibilang kurang. Kami tidak mungkin bisa membalas jasa-jasamu. Mustahil jika aku menjadi guru dan kalian menjadi murid-muridku. Tapi Allah Maha Adil dan balasanNya lebih indah dan tidak tertandingi. Semoga engkau tidak lelah mengajar anak bangsa dengan penuh keikhlasan dan teladan. Bangsa ini menjadi bodoh tanpamu!!!


Responses

  1. Aku turut sedih trenyuh atas cerita di atas, tetapi kayaknya dunia pendidikan kita sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Aku cuma melihat bagaimana anak saya di kelas 3 SD negeri di Jakarta belajar selama ini. Metode pembelajaran sudah jauh berbeda dengan saya dulu, sekarang buku pelajaran lebih bermutu, penguasaan guru akan materi pelajaran dan cara penyampaiancukup baik, serta hubungan guru murid sudah tidak berjarak.
    Bottom linenya, banyak good news di dunia pendidikan kita. Hidup GURU!!!. Profesi yang sangat strategis bagi masa depan bangsa. Masa di depan kita ada di tangannya…

  2. lah anaknya bapak kan sekolah di sekolah unggulan kali atau sekolah mahal??? he5x. tapi kalau di jakarta ya no comment lah pak. kalau di daerah gimana??? kan rakyat indonesia bukan pendudukk jakarta aja pak he5x!

  3. aku sangat tertarik dengan cerita kamu,memang jasa-jasa seorang guru sangat besar dalam perkembangan dan pertumbuhan seseorang,,waktu terus berkembang seorang murid sudah berubah baik itu menjadi lebih baik atau sebaliknya namun seorang guru akan tetap menyampaikan ilmu-ilmu yang ada di dalam dirinya didepan kelas yang sama, waktu yang sama,gaji yang sama,meghitung nilai muridnya,menambah nilai muridnya yang kurang,,,begitu banyak jasa guru” yang trlupakan murid”..sedikit kesalahan guru akan menghapus semua citra yang ada pada guru tersebut…

  4. memang betul guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa dimana guru mencetak banyak sekali mansuia yang akan jadi orang besar sementara kehidupan guru sendiri terkadang memprihatinkan

  5. aku ikhlas kok jadi guru…sudah 20 thn ngajar. teman seangkatanku sudah jadi kepala sekolah semua, mengelola dana BOS. tapi aku tetap pilih jadi guru……….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: