Posted by: aang | January 4, 2008

Musik Indonesia terancam


OK, aku memang bukan ahli dalam musik atau insan yang bekerja dalam dunia musik. Tapi sebagi musik mania aku mendapatkan gejala bahwa musik Indonesia mengalami pembodohan secara tidak kita sadari. Dulu aku senang sekali dengan kemunculan band seperti Maliq D’essential dan Ecoutez. Di mana kedua band tersebut membawa warna dunia musik Indonesia yang terus saja didominasi oleh genre pop. Selain mereka beraliran pop jazz lirik yang mereka tulis tidak selalu menye-menye dan berkualitas. Namun sayang tahun 2007 adalah titik di mana aku rasa musik Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis.

Gejala ini dimulai dengan merebaknya band yang menurutku ia populer akibat blow up dari televisi yang sangat bertanggung jawab dalam perusakan musik Indonesia. Sebut saja lah namanya yaitu Radja dan Kangen Band. Entah kenapa sejak ngeboomingnya mereka khususnya kangen band yang memang gak berkualitas bermunculanlah band yang mengusung lagu yang liriknya cengeng dan begitu-begitu saja. Malah ada band yang mengusung band dengan melodi melayu yang sekarang sudah tidak jaman lagi. Tahu ST-12? Yup jika mendengar lagu ini akan terasa sekali nuansa lagu-lagu Exist dkk. Parahnya lagi mereka semakin terkenal dengan penanyangan yang berulang-ulang oleh pihak televisi sehingga masyarakat sada tidak sadar telah dikendalikan seleranya atas musik.

Yup. Televisi lah yang paling bertanggung jawab atas ini semua. Setahuku masih banyak band yang dari segi musikalitasnya lebih baik dari sekedar Kangen Band, ST-12, Matta, dan band menye-menye lainnya. Tapi sekali lagi hal ini karena televisi tidak pernah atau jarang sekali menanyangkan musik mereka. Sehingga seolah-olah kita sebagai konsumen musik Indonesia hanya diberi pilihan kalau tidak Nidji (lumayanlah!), Ungu (produsen lagu menye-menye), Radja, Samson, Letto, atau Kangen Band (sumpah najis abis!). mana Maliq D’essential, Ecoutez, Souljah, D’cinnamons, dan band-band yang masih mempertahankan ideliasme mereka ketimbang menuruti keinginan pasar yang telah dimanipulasi.

Sebagai konsumen kita berhak menuntut agar musik Indonesia lebih bervariasi dan tidak hanya dikuasai oleh satu selera saja. Ahmad Dani a.k.a Dani Ahmad atau siapalah namanya itu juga secara tidak kita sadari telah merusak selera musik Indonesia dengan proyek-proyek yang dia anggap idealisme. Dewi-dewi yang aransemen musiknya banyak sekali menjiplak lagu popular musisi internasional, The Rock yang jenis musiknya sama dengan jenis musiknya Deddy Dores tapi sudah ada permak di sana-sini, atau bahkan Mulan Jameela yang sok Britney. Tapi jujur Andra & The Backbone masih bisa aku terima karena musik yang mereka mainkan tidak mengikuti arus yang ada malah lebih ngerock dari band yang pake nama The Rock.

Belum dominasi Melly dan suaminya di musik pop khususnya di jalur soundtrack. Ayolah kita harus berani mengatakan jelek kalau tidak kapan musik kita maju. Intinya bukan aku menghina musik anak negeri sendiri. Tapi aku lebih mengkritik ke sistem yang mengatur selera pasar industri musik Indonesia yang tidak lepas dari dunia pertelevisian. Jujur masih banyak penyanyi solo, band, dan musisi yang lebih baik dari mereka yang rajin nongol di televisi.

Hidup musik Indonesia!


Responses

  1. ang balikin kaset dewa gw

  2. oiiiiiiiii sapa ya??? seingatku kalau aku gak salah. aku gak pernah tuh pinjem kaset dewa. beneran neh??? sepanjang sejarah gue bukan dewa mania deh.

  3. aang, kamu orang indon yah?

  4. ngomong opo kowe pung???

  5. Alhamdulillah, kagak punye tipiii…

  6. bagus mi. mendingan jangan punya tipi deh. ya sebenarnya perlu seh buat nonton metro. tapi awas radio juga bisa membawa wabah ini.

  7. ngomong opo kowe pung??? <– aang, kamu orang indon yah?

    ditanya malah tanya lagi.. gimane sih.. dasar indon :p

  8. mas apung ni apaan sih? perasaan dimana-mana kerjanya nyampah mulu.. (lha.. yg ngomong jg begituh.. hihi..)

    tanda-tanda ni.. ap mw tak cariin calon ya? hohoho..

  9. Well, bukanlah dosa kalo ad band ky kgn band st12 dkk….tp y..aq stuju bro..medianya tu yg berdosa kbanyakan mempropagandakan musik2 mreka…dan tdk memberi tmpat bwt warna musik lain yg lbh variatip.

    FaaaAAAAKK!!!

    Musik klasik2 orkes n paduan swara g pnh masuk tipi..pdhl di jgja misalnya..klo diliat prkembangannya..konser2 musik model bgini jg mesti tiketnya SOLd OuT..ck3..Andre Manika dilarang tampil di Tipi…G ad yg tau Jubing…G ad yg tau Singgih Sanjaya…

    ck3..band2 lokal jg bnyk yg ikut2an aj. nggarap lagu2 yg ngtren..dan g berani mengeksplor yg lain n bikin sesuatu yg baru..ck3..FaaAAK…

    jd wahai para musisi..
    mari berjuang…
    dari bawah jg g pa2..
    g sempat trkenal jg g pa2..
    Tp y sebelum mati..yakinkanlah bahwa spirit yg anda bawa akan diteruskan orang lain..
    dan kita g akan prnh bnar2 mati.

  10. […] Bicara tentang musik, musik Indonesia sekarang di banjiri Band-band pendatang baru yang mungkin tidak terhitung lagi jumlahnya. Semua langsung punya fans-fans yang tidak kalah fanatik seperti band-band terdahulu. Akan tetapi kalau dilihat-lihat lagi, genre musik mereka ternyata nggak jauh-jauh dari pop dan melow. Semua band hampir sama dan mirip malah. Menurut kamu,anda dan kalian semua, apakah ini tidak monoton.? […]

  11. setuju rata-rata monoton dan itu itu saja seperti tahun 2000-an.
    Band Baru yang boleh diperhitungkan ya Maliq, Ran, Kotak ,kayaknya itu aja oh ya Andra


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: