Posted by: aang | January 25, 2008

Di Denmark, Teori Evolusi Semakin Pudar


Kamis, 24 Januari 2008 var sburl7157 = window.location.href; var sbtitle7157 = document.title;var sbtitle7157=encodeURIComponent(“Di Denmark, Teori Evolusi Semakin Pudar”); var sburl7157=decodeURI(“http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6238”); sburl7157=sburl7157.replace(/amp;/g, “”);sburl7157=encodeURIComponent(sburl7157);

Surat kabar Denmark memberitakan, sekitar 36 sekolah swasta Kristen berencana memasukkan materi “Tuhan” dalam pelajaran biologi. Semakin pudar lah teori evolusi

Hidayatullah.com– Menjelang tahun 2009 nanti, evolusionis Denmark sudah merencanakan peringatan 200 tahun hari lahir Charles Darwin, bapak teori evolusi yang lahir 12 Februari 1809 silam. Itulah yang dilaporkan surat kabar terlaris berbahasa Denmark, Jyllands-Posten, 8 Januari 2008 lalu.

Dalam laporan berjudul Darwin fejres i København, tulisan Marie Bering di koran itu memuat pernyataan Hanne Strager, pejabat Museum Sejarah Alam Denmark di Universitas Kopenhagen, seputar rencana peringatan Hari Darwin, teori Darwin dan penentangannya oleh para pendukung perancangan cerdas dan penciptaan di masa kini.

Ada apa? Mengapa ilmuwan besar lain tidak diperingati di Denmark dan di negara-negara maju lain? Kenapa tidak ada peringatan Hari Newton, Hari Einstein, Hari Galieo Galilei, dan sebagainya? Kenapa dunia ilmiah dan media massa sangat geger jika teori evolusi diserang keabsahan ilmiahnya, tapi tidak sedemikian heboh jika teori-teori ilmiah lain dipermasalahkan?

Ini bukti adanya hal besar tersembunyi di balik dogma teori Darwin. Ini pertanda teori evolusi sudah tidak lagi berada di tataran ilmiah, yang boleh leluasa dipertanyakan nilai keilmiahannya sebagaimana teori-teori ilmiah lain. Dengan kata lain teori evolusi sudah dikultuskan, dikeramatkan alias dinobatkan sebagai agama dan dogma suci yang tabu untuk diusik, sehingga perlu pula diadakan perayaan “Darwin Day”.

Evolusionis Denmark terkejut

Evolusionis Denmark memang layak untuk tidak tenang. Pasalnya, beberapa tahun terakhir aib yang menutupi “kekeramatan” teori evolusi mulai disingkap di hadapan masyarakat negeri Skandinavia itu.

God and biology (Tuhan dan biologi), demikian judul surat kabar Denmark The Copenhagen Post 19 Oktober 2006 lalu yang memberitakan gonjang-ganjing seputar pengajaran teori evolusi dalam mata pelajaran biologi. Berita itu memaparkan sekitar 36 sekolah swasta Kristen yang berencana memasukkan Tuhan dalam pelajaran biologi.

Dalam rencana ini, teori evolusi Darwin tidak dihapus, melainkan diajarkan beriringan. Kurikulum sekolah itu sedianya akan menekankan bahwa teori evolusi hanyalah satu dari beberapa teori. Ada teori lain yang menyatakan bahwa alam semesta ini sungguh rumit dan hanya mungkin tercipta oleh kekuatan mahatinggi. Mendengar hal ini, ketua ikatan biologi, Anders Thomsen, dan mantan menteri pendidikan negeri yang terletak di Eropa utara itu, Margrethe Vestager, diberitakan “kaget”.

Tidak intelek

Seperti pendukung buta dan dogmatis teori Darwin lainnya, evolusionis Denmark kehilangan nalar sehat ketika teori itu dipertanyakan keabsahannya. Daripada membantah balik secara ilmiah atau memberi tempat resmi bagi perbincangan intelektual yang adil seputar pro-kontra teori evolusi, mereka lebih memilih sikap tidak bijak dengan cara menakut-nakuti layaknya diktator.

Evolusionis ingin agar masyarakat menerima dogma “suci” evolusi apa adanya, tanpa banyak tanya. Mereka yang mencoba kritis secara ilmiah, perlu diperingatkan bahkan dicemooh.

Setidaknya itulah yang terlihat dalam liputan The Copenhagen Post, 24 Oktober 2002 dengan judul Darwin debat spreads (Adu mulut soal Darwin meluas). Para guru di sekolah-sekolah dasar di negeri yang kini berpenduduk sekitar 6 juta jiwa itu diperingatkan untuk tidak terlalu kritis terhadap teori evolusinya Charles Darwin ketika mengajar biologi. Anders Bondo Christensen, ketua Ikatan Guru Denmark, menegaskan bahwa teori evolusi Darwin diakui luas, dan para guru Denmark tidak sepatutnya mengajarkan lebih dari apa yang ada.

Sementara itu, kepada harian Jyllands-Posten di hari yang sama, Marianne Karlsmose dari Partai Rakyat Kristen menyatakan bahwa sekolah-sekolah Denmark seharusnya mengijinkan pandangan lebih kritis terhadap teori Darwin. Karlsmose mendukung pengajaran penciptaan disamping teori evolusi di sekolah.

Serangan lebih dahsyat

Bantahan ilmiah yang tak kalah dahsyatnya pun melibas evolusionis Denmark. Apa lagi kalau bukan dari Turki. Berbagai media massa dan lembaga pemerintah setempat pun terperangah saat Atlas Penciptaan karya Harun Yahya mendarat tiba-tiba di negeri itu.

Harian berbahasa Denmark, Berlingske, menurunkan laporan yang berisi sejumlah tanggapan dari ilmuwan darwinis tentang pertumbuhan penciptaan di negeri yang berbatasan dengan Jerman itu. Liputan itu berisi kegelisahan kalangan darwinis Denmark dan pengakuan bahwa keyakinan pada penciptaan bakal menuai kemenangan di negara itu.

Koran kondang Denmark, Jyllands-Posten melaporkan pula serangan Harun Yahya ini. Harian itu meliput pengiriman buku Atlas Penciptaan secara gratis kepada anggota parlemen, para ilmuwan dan para guru sekolah tinggi di Denmark.

Dalam terbitannya tanggal 30 April 2007, Jyllands-Posten menerbitkan ulasan Poul Bjerregaard dari Syddansk College Institute of Biology. Tulisan itu memaparkan kepanikan akibat kemunculan buku Atlas Penciptaan di Denmark di segenap lapisan masyarakatnya, termasuk kementrian pendidikan di negeri yang berbentuk kerajaan itu. “Ada kekhawatiran bahwa Atlas Penciptaannya Harun Yahya mungkin akan berpengaruh besar pada sistem pendidikan kita,” tulisnya.

Pada tanggal 25 April 2007, situs internet Folketinget, parlemen nasional Denmark, menerbitkan tanggapan Menteri Pendidikan Denmark, Bertel Haarders atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya mengenai Atlas Penciptaan.

Menurut jajak pendapat pada harian berbahasa Denmark, Ekstra Bladet, masyarakat Denmark tidak lagi mempercayai evolusi”. Saat ditanya “Apakah Anda berpendapat manusia berasal-usul dari monyet?” Sebanyak 88% menjawab “Tidak”.

Laporan tertanggal 29 Juni 2007 yang mendampingi jajak pendapat tersebut mencermati dampak akibat kedatangan Atlas Penciptaan. Laporan itu merujuk kekhawatiran profesor sejarah pemikiran Peter C. Kjærgaard akan tergusurnya pengaruh darwinisme di Denmark. [cr/www.hidayatullah.com]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: