Posted by: aang | January 28, 2008

Sudahkah Kita perduli dengan lingkungan kita?


41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rum)

 

30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (asy-Syura)

 

 

Kalau kita pahami ayat di atas, maka Allah sudah mengindikasikan sejak jaman Rasulullah saw bahwa kerusakan dan bencana yang terjadi semata-mata hanyalah karena ulah manusia. Kita kaitkan pula hal ini dengan isu global warming yang menjadi isu penting decade ini. Adanya perubahan siklus musim, mencairnya gunung es di kutub utara dan selatan, menghilangnya pulau-pulau kecil, dan juga memanasnya suhu bumi secara drastis merupakan tanda dari bencana global warming. Seperti kita ketahui bahwa bencana global warming adalah salah kita sendiri, salah umat manusia yang terlalu berlebihan mengekplorasi bumi dan merusak kesimbangan biosfer bumi. Gaya hidup kita yang berlebihan terhadap dunia sehingga mengakibatkan kerusakan pada bumi tempat tinggal di kita. Eksplorasi sumber daya alam besar-besaran, gaya hidup yang berlebihan, dan tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan menyebabkan bumi kita sakit secara perlahan dan kini sedang dalam titik akut.

Padahal Rasul mengajarkan kita untuk tidak terlalu mencintai dunia dan berlebih-lebihan pada dunia. Sistem kapitalisme yang sudah mengikat kita semua di mana pun kita berada, memaksa kita untuk hidup melebihi yang kita butuhkan. Kita dipaksa untuk mencukupi keinginan kita tidak lagi kebutuhan kita. Maka kita akan merasa malu kalau tidak mempunyai sepeda motor, mobil, atau rumah mewah yang sangat luas. Kita dipaksa harus pergi berlibur setidaknya setahun sekali dengan dalih refreshing dan penyegaran badan dan pikiran kita. Kita dipaksa hidup melebihi kapasitas kita sebagai manusia. Yah akhirnya kita terjerumus dalam hidup serba materialis di mana semuanya diukur dengan uang dan harta yang kita miliki.

Kita lupa Rasul mengajarkan kita untuk hidup sederhana atau zuhud terhadap dunia yang fana ini. Tapi bukan berarti kita tidak diwajibkan berusaha keras untuk menjadi kaya namun kita diajarkan untuk hidup secukupnya. Lantas ngapain dong kita kerja keras kalau tidak kita gunakan untuk menikmati hidup dan bersenang-bersenang? Kalau yang berbicara demikian adalah non muslim maka dapat dimaklumi. Namun, bagaimana jika kita yang mengaku muslim berkata demikian??

Kalau kita runut lagi bawah rukun iman ada 6 yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan dalam hal mengimani. Nah rukun iman ke-5 adalah beriman pada hari akhir. Kalau kita benar-benar beriman pada hari akhir maka hal itu akan mempengaruhi sudut pandang kita terhadap kehidupan di dunia ini. Bahwa sesungguhnya hidup kita di dunia ini sementara dan nanti aka ada hari akhir. Setelah hari akhir ada hari pembalasan di mana semua amalan kita ditimbang tanpa ada amalan sekecil apapun dilewatkan. Lalu neraka atau surga itulah tempat tinggal kita sebenanrnya dan kita berada kekal di dalamnya.

Seharusnya sebagai seorang muslim maka sifat zuhud terhadap dunia secara otomatis ada dalam diri kita. Karena zuhud adalah implementasi keimanan kita terhadap hari akhir. Sehingga membentuk kita untuk bekerja keras berbuat amal sholeh sebanyak-banyaknya untuk mendapat balasan surga. Maka contohlah Rasulullah saw dan para sahabat-sahabatnya. Hidup mereka sederhana tapi dalam berzakat dan bersedekah mereka saling berlomba-lomba. Mungkin dalam pikiran kita Rasulullah miskin karena Beliau hanya mempunyai sepetak tanah rumah. Jangan salah saudaraku. Beliau memang hidupnya sederhana tapi Rasulullah saw ketika berkurban di Idul Adha maka lembu-lembu milik Beliau yang paling besar dan bagus. Beliau pun memiliki kuda perang yang bagus dan kokoh serta unta terbaik di jamannya. Maka sudah dapat dipastikan bahwa Rasulullah tidak miskin tapi Beliau hidup sederhana. Sebagian besar hartanya dibelanjakan di jalan Allah yaitu untuk membayar zakat, sedekah, berkurban, dan menyantuni anak yatim. Beliau sangat ringan tangannya ketika membantu anak yatim dan sangat dekat dengan anak-anak yatim.

Andaikata kita semua umat islam hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan mungkin proses perusakan bumi dapat berkurang dan banyak anak yatim dan kaum fakir miskin tersantuni.

Maka saatnya kita bertanya:

  1. Apakah memang kita membutuhkan semua barang yang kita beli? Apakah kita memang membutuhkan atau sekadar menginginkan?
  2. Kemanakah sebagian besar harta yang kita punya dihabiskan? Dibelanjakan untuk bersenang-senang semata? Atau kita belanjakan di jalan Allah dengan balasan yang berlimpah dari Allah?

Saatnya kita intropeksi diri kita sebagai wujud keperdulian kita kepada lingkungan. Apakah kita menginginkan sepeda motor atau membutuhkan sepeda gunung??? Pilihan yang kita jatuhkan tentunya akan berakibat besar terhadap pengeluaran kita secara total dan efeknya terhadap lingkungan alam kita. Itu adalah salah satu contoh kecilnya. Semoga kita makin perduli dengan lingkungan kita. Karena memang kita khalifah di muka bumi ini yang berarti kita mempunyai tanggung jawab atas bumi ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: