Posted by: aang | January 4, 2010

We all have our own problems, don’t we?


Pertanyaan ini menggelitik saya saat saya menghadiri sebuah rapat atas kegiatan yang bersifat volunteered atau bersifat sukarela. Sebelumnya tidak perjanjian yang mengikat atau pasti kapan kita harus berkumpul. Maka saya pun berpikir rapat ini tidak begitu formal dan cuma kumpul-kumpul saja sambil diskusi. Singkat cerita saya hadir di sana setelah saya bertanya sendiri kepada sang pemilik gagasan kapan rapat itu akan digelar. Saya hadir telat begitu pun dengan sebagian peserta yang lain tapi tidak ada yang merasa keberatan karena memang ini panggilan tidak formal. Nah, rapat yang berjalan sangat singkat itu dipimpin dengan pembawaan yang sangat tidak mengenakkan. Kata-kata yang terlontar ketus dan tanpa agenda rapat yang jelas.  Sampai-sampai ada peserta rapat yang tidak terima akhirnya menginterupsi jalannya rapat dan bertanya agenda rapat sore ini apa saja dengan nada yang cukup tinggi. Cukuplah bagi saya dan anggota rapat lain tahu bahwa dia sudah kehilangan kesabaran. Oke, rapat ini ternyata membahas tentang lomba drama berbahasa inggris dan apakah kita mau mengikuti lomba tersebut. Ternyata sang pemimpin rapat masih terbawa emosi entah karena apa sehingga pembahasan belum selesai. Ia kemudian meminta notulen membacakan hasil rapat lalu ia menutupnya. Setelah mengucapkan salam ia pergi begitu saja dengan alasan mempunyai agenda lain dan memang rapat ini dijadwalkan selesai pukul setengah enam. Oke, bagi  kami tidak masalah toh kami masih bisa meneruskan diskusi tanpa kehadiran Dia. Lalu, saya tidak sengaja melihat Sang pemimpin rapat tersebut cuma duduk di sisi lapangan basket dan melihat permainan yang sedang berlangsung. Selepas Maghrib saya menerima sms yang berisi sms permintaan maaf atas sikap orang itu tadi saat dia membawakan rapat. Alasan yang ia kemukaan adalah ia sedang mempunyai masalah dan sedang sensitif. C’mon! He is a guy and He is 26 years old.

Lalu terbesit pertanyaan di pikiran saya, bukankah kita mempunyai permasalahan masing-masing dalam kehidupan kita?  Bukankah sebagai manusia yang masih hidup maka masalah akan mendera kita tiada henti? Bukankah itu proses pendewasaan? Lantas, apa kita harus menunjukkan ke semua orang kalau kita sedang mempunyai masalah? Seolah orang lain tidak mempunyai masalah dalam hidupnya?

Saya sedang mengalami masalah saat ini  dan saya yakin begitupun anda saat ini. Tapi, bukan berarti kita kehilangan alasan untuk selalu tersenyum dan bersikap baik kepada orang kan? Oke, saya tahu kalau ada tipe orang yang sangat sensitif  dan moody. Buat saya ini bukan pembenaran untuk memperlakukan orang lain, yang tidak tahu masalah kita, dengan ketus dan kasar.

Dulu saya moody dan sensitif bahkan sekarangpun sifat tersebut masih ada. Dulu jika saya merasa saya sedang dalam keadaan mood yang kurang baik maka saya akan melarang diri saya sendiri untuk bertemu orang lain kecuali bekerja. Contohnya, saat teman-teman saya ingin bertemu di sebuah kafe dan kondisi mood saya jelek maka saya dengan berbagai alasan akan menolak untuk bergabung. Hal ini bukan bermaksud untuk jaga image atau apapun itu melainkan untuk menjaga perasaan orang lain. Agar mereka yang sebenarnya tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah itu tidak terkena perkataan saya yang ketus dan kasar.  So, I played safe when My Mood was so bad.

Kini pun saya melihat masalah bukanlah sebagai beban atau pengurang alasan saya untuk menikmati hari ini dan untuk tidak tersenyum. Saya berpikir bahwa masalah akan selalu ada dalam hidup kita. Karena itulah proses pendewasaan dan perbaikan diri kita. Di saat kita meminta kepada Tuhan untuk dijadikan pribadi yang lebih sabar. Maka kita harus menjalani proses di mana kesabaran kita diuji. Karena kesabaran itu harus dilatih bukan didapat begitu saja seperti durian runtuh. Kini saya mencoba untuk selalu tersenyum dan tidak menampakkan wajah ”hey saya sedang mengalami masalah berat tolong dimengerti akan semua sikap saya”. No way! Semua orang mengalami masalah dalam kehidupannya dan sesuai dengan kadarnya. Kadang kita memandang masalah yang sedang menimpa orang lain itu masalah sepele begitu juga orang lain memandang masalah yang sedang kita hadapi. Lantas, apa alasan kita untuk tidak bersikap tenang, baik, dan santun walaupun kita sedang dalam masalah besar?

Kejadian tersebut membuat saya merenung kembali bahwa memang untuk menjaga emosi itu sangatlah susah dan bukan perkejaan gampang. Bukan berarti itu mustahil kan? Mari kita tersenyum sehingga orang lain merasa ceria begitu melihat kita. Syukur mereka mendapatkan energi positif dari senyuman sehingga mereka nyaman berada di antara kita. Semangka!


Responses

  1. 1st comment: nice snow,Ang… brasa di eropa ajah, heheheehhe🙂

    well, nanggepin ni postingan… I’m a person that cant hide anything… huff, ga bakat jd actress nih…hehehehe🙂 jd kalopun bad mood, bakal ketauan banget di wajah n everyone will put “horrified” expression on their face…

    aku pikir ini smua relatif lah… It depends on their personalities… depends on their work.. well lots of factor, I guess. idealnya sih, setiap orang punya manajemen emosi yg bisa dimanfaatin pd saat2 yg kek gini… gmn dia kudu bisa “berdamai dengan diri sendiri” n “be professional” 4 whatever they have to deal with… so I guess it depends on how gud are their emotion management.

  2. hhmmm… nice opinion ttg org lain
    Beliau baca tulisan ini ga, Aang???

    tersenyum itu mudah… tp mata tdk bisa berbohong
    meski bibir membuat lengkungan ceria, tp klo pikiran lg butek n hati lg nyesek… klo org lain tau ttg kita, mereka pasti menyadari perbedaan pancaran mata kita (kok bahasaku jd tingkat tinggi ya… hi3)

    tp bnr katamu, tersenyumlah… setidaknya hal sesederhana itu bisa membuat org lain nyaman

    smangat ya Aang ^_^

  3. Ok..as u wished aku mau bikin komen….
    in my opinion:
    Kenapa dia berbuat begitu (red: marah-marah whatsoever bikin semua orang bete), is because he ask for our attention (at least itu yg aku baca)…
    So why dont we asked (if u care) what was his problem…
    Mungkin dia pengen curhat tapi ga ada tempat where he could throw everything he felt….
    aku juga kadang-kadang suka bikin bete orang even he/she ga punya salah…
    well, apa yg dia lakuin dengan meng-sms permintaan maap is the right thing…
    karena gw juga akan melakukan hal yg sama kalo bersikap kayak gitu…
    N u know what?! sometimes masalah bisa bikin banyak inspirasi buat nge-post (for blogger)… see u just have to think positively…
    hehehe…
    –meracau deh gw…

  4. @sigit : menyesuaikan dengan musim apa di eropa. Kalo di eropa musim duren mungkin butiran salju ini akan berubah jadi buah-buah duren yang berjatuhan. Btw, kayaknya orang virgo ga bisa menyembunyikan perasaan dia ya. Kalau lagi sedih susah banget buat bikin wajah “riang gembira habis dapat pacar baru dan rumah baru”, ya ga?
    @ika : orang yang bersangkutan udah aku singgung secara langsung. You know what? pas dia sms minta maaf aku balas “Iya dimaafin, lain kali kontrol emosinya ya”.
    @teteh : eh bukannya gue udah terinspirasi dengan sikap dia. Sehingga lahirlah tulisan ini. Actually I want to thank him anyway coz He inspired me.

  5. yeah that’s why i said it…
    But the point is he ask for some attention from one of u… (nunjuk yg merasa kena his attitude nge-bete-in whatsoever itu)
    ——————————————–
    jadi inget kalo lagi happy ga pernah inget buat posting…
    jadi isi postingan-nya racauan semua –hahahakz…
    (nunjuk diri sendiri)

  6. don’t make me angry
    you wouldn’t like me if I’m angry

    *apa sih*

  7. hhahhahaha, ihhhh, gw bangeeeet. ga deng. tapi biasanya kalo misalnya lagi marah sama orang tertentu nunjukkin marahnya ke orang itu doang siii. makanya walopun lagi ngambek sama mas roni, biasanya ga ada yang sampe tau. +ngikik+ lah kok malah curhat.

    iya sih, bener. sebagai orang yang katanya udah dewasa ya bo, kita emang udah harus mulai belajar mengendalikan diri :p

    • betul sekali. Masalahnya mbak dia itu cowok dan totally so straight. Jadi ga masuk ke nalar gue aja dia bertindak kayak cewek gitu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: